Sudut-Sudut Islamic Center dan Masjid Tubaba Karya Andra Matin, Lampung

Submitted by viravira on 21 February 2020   •  Destination

Lahir dan besar di Lampung, saya merasa familier dengan selera arsitektur di sana. Secara umum, menurut saya cukup konvensional. Dan banyak bangunan yang ditambahkan elemen dekoratif berwarna-warni, yang menurut saya pribadi, kurang estetis. Makanya saya kaget saat mengetahui bahwa ada masjid unik di Lampung dengan desain semodern, sekontemporer, dan sebrutalis ini di sana. Masjid As Shobur dirancang oleh Andra Matin, salah satu arsitek terkemuka Indonesia, yang dikenal idealis dan gaya arsitekturnya yang kontemporer. Saya mengetahui adanya masjid ini dari pameran “Prihal – 20 tahun andramatin” di Galeri Nasional, Jakarta, akhir tahun 2019.

Masjid As Sobur di latar belakang dan pagar dengan aksara Lampung di latar depan.

Beberapa minggu lalu, saya mengunjungi Ibu di rumah masa kecil saya di Bandar Lampung. Sekalian saya sempatkan untuk melipir ke Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), tempat masjid ini berada. Lokasinya sekitar 100 km dari Bandara Radin Inten di Branti, yang waktu itu kami tempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam naik mobil dengan kondisi jalan lancar. Sudah ada jalan tol juga menuju ke sana.

Jalan yang kami lalui adalah Lintas Tengah Sumatra. Kami melewati beberapa kota kecil dan ketika sudah masuk ke Kab. Tubaba terlihat rumah-rumah beton sederhana di sepanjang sisi jalan, dengan jarak yang masih agak jarang satu sama lain. Lalu bangunan masjid karya Andra Matin yang dicari-cari pun nampak di sebelah kiri.


Masjid As Shobur berdiri di lahan yang luas, entah berapa ratus atau ribu meter persegi. Dari tepi jalan sudah terlihat bangunan tinggi abu-abu berbentuk menyerupai trapesium, dengan taman luas terhampar di depannya. Sebuah bangunan lebih pendek dan lebar yang didominasi kayu terdapat di sebelah masjid, yaitu gedung Islamic Center.

Dari luar, gedung masjid terlihat kaku, keras, dan “dingin”. Fasadnya beton yang diekspos, tidak dicat ataupun ditutupi material lain. “Ini udah selesai dibangun?” kira-kira tanya om saya, yang belum biasa melihat bangunan seperti itu.

Tanda masuknya pun dirancang dengan keren.

Sekadar referensi, bagi yang belum familier dengan karya Andra Matin, atau andramatin, biro arsitekturnya, karya-karya dia lainnya antara lain kafe/galeri Dia.Lo.Gue dan toko buku Aksara (sebelum direnovasi) di Kemang, Jakarta, dan yang juga populer tapi baru saya lihat dari foto adalah hotel Katamama di Seminyak, Bali, dan bandara Banyuwangi yang baru. Walaupun modelnya variatif, ada satu kesamaan yang mudah terlihat dari bangunan-bangunan ini, yaitu material dasar yang terekspos. Katamama menggunakan batu bata merah, sedangkan bandara Banyuwangi menggunakan kayu ulin. Pak Aang, sapaan akrab untuk Andra Matin, lebih mementingkan fungsi dari sebuah ruang daripada dekorasinya, tapi tetap mengindahkan keindahan. Nah, yang terakhir ini memang subjektif, tergantung selera dan kebiasaan.

Kala itu Tubaba terik sekali, serasa ada 12 matahari menggantung di langitnya. Tapi itu tidak menghalangi banyaknya orang yang menikmati kawasan masjid. Ada beberapa keluarga yang berfoto di taman, anak-anak berlarian di teras, dan sekelompok remaja duduk-duduk di tangga samping Islamic Center. Kolam di depan Islamic Center luasnya bukan main, hampir menyerupai danau. Uniknya, kolam ini dibelah dua, dengan jalan setapak di tengahnya. Saya langsung teringat kisah Nabi Musa yang membelah Laut Merah dengan tongkatnya. Adanya kolam besar ini, selain menjadi daya tarik sendiri bagi hamba Instagram, juga membantu menyejukkan suasana. Ikan-ikan yang sengaja dipiara di dalam kolam juga menambah keceriaan, terutama bagi para pengunjung cilik.

Seolah-olah membelah lautan bagai Nabi Musa.

Asyiknya lagi, hawa panas tidak ikut masuk ke dalam masjid. Ini pertanda sirkulasi udara yang baik, entah bagaimana secara teori arsitekturnya. Yang jelas, sebagian sisi ruang ibadah ini tidak berdinding apalagi berpintu, dan atap di atas bagian shalat laki-laki sangat tinggi, setinggi 30 meter. “Seperti cerobong,” kata ibu saya. Atap inilah yang membuat gedungnya terlihat seperti bangunan bertingkat dari luar. Dan angka 30 menyimbolkan 30 juz dalam Al Quran. Di atapnya terdapat lubang cahaya sejumlah 99 buah, menyimbolkan 99 nama Allah.

“Cerobong” 30 meter.
Ruang untuk shalat; kaya cahaya dan langit-langit berukir nama Allah.


Salah satu sisi masjid memiliki dinding yang menggantung, dengan bentuk tepi bawahnya menyerupai aksara Lampung yang biasa disebut Kaganga. Aksara Kaganga juga diaplikasikan di langit-langit gedung Islamic Center, serta di ‘plang’ depan masjid. Saya senang sekali dengan aplikasi aksara ini. Sebab, saya bosan melihat ikon siger dipasang di mana-mana sebagai identifikasi tradisi Lampung. Bukan apa-apa. Siger memang punya bentuk yang menarik dan merupakan salah satu atribut tradisional yang ikonik dari Lampung. Tapi, terlalu sering saya melihat siger dipasang di fasad bangunan sekadarnya saja, ‘asal ada’, tapi tidak serasi dengan desain fasadnya secara keseluruhan.

Memang, kembali lagi bahwa desain itu mencakup masalah selera subjektif. Namun, dengan pemilihan aksara sebagai wakil perlambangan tradisi Lampung, saya melihat bahwa tim andramatin menggali lebih jauh mengenai tradisi lokal. Aplikasinya pun, menurut saya, bagus sekali dan cocok dengan gaya bangunannya.

Tidak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa Lampung punya aksaranya sendiri. Saya tahu karena pernah memelajarinya waktu SMP di sana, walaupun sekarang sudah lupa huruf-hurufnya. Dalam kehidupan sehari-hari pun aksara ini tidak dipakai lagi, tapi pemerintah daerah tetap berusaha melestarikannya dengan menggunakannya pada plang-plang nama jalan.

Aksara pada dinding.
Diyan berdiri di area ‘suci’, alas kaki dilarang.
Aksara Lampung menyambut pengunjung masjid tubaba.

Fasad Islamic Centernya didominasi dengan kayu. Dan banyak celah terbuka di dinding serta langit-langitnya. Bangunan ini bertingkat dua, tapi saya cuma mengamati dari bawah karena terlalu malas membuka sepatu untuk naik ke lantai dua. Tapi saya bisa membayangkan sejuknya lantai duanya berkat angin semilir. Di lantai bawah, terdapat 4 ruangan terpisah yang terlihat seperti kubus-kubus kayu, yang merupakan ruang sekretariat, ruang dewan kesenian, dan toilet.

Bangunan Islamic Center yang banyak celah udara.
Aksara Lampung di langit-langit Islamic Center.

Di samping hal-hal yang keren ini, ada satu hal yang saya sayangkan tentang masjid Tubaba Lampung ini. Saat saya berkunjung, beberapa batang sapu dan tong sampah besar plastik dengan warna-warni mencolok diletakkan sembarang saja di taman maupun di teras. Mungkin ini lebih karena manajemen operasionalnya yang kurang rapi. Dan mungkin karena ada tong sampah di mana-mana, sampah pun tidak berserakan walaupun sedang banyak pengunjung. Tapi alangkah indahnya kalau tempat sampah pun dibuat dan diletakkan dengan lebih serasi.

Mungkin perlu ditambahkan lemari untuk perkakas kebersihan supaya lebih rapi.
Taman yang ciamik dengan aksen tempat sampah plastik biru.

Akhir kata, masih banyak lagi detail menarik dari kompleks Masjid As Sobur ini. Saya belum membahas jembatan tanpa tangganya, penataan pohon di tamannya, dan nama-nama surat Al Quran yang tertera di pilar-pilar koridor. Kalau kamu penasaran, mungkin lebih baik kamu melihatnya langsung ke sana sekaligus menikmati nuansa yang tercipta dari setiap elemennya.

Kontemplasi sambil memandangi ikan berenang.
Jembatan di belakang masjid dan Islamic Center.
Tangga di samping Islamic Center, mengingatkan pada tangga di Dia.Lo.Gue.
Ngadem di dekat air kolam.
Taman unik di halaman masjid.

Leave a Reply

1 Comment on "Sudut-Sudut Islamic Center dan Masjid Tubaba Karya Andra Matin, Lampung"

Notify of
avatar

Sort by:   newest | oldest | most voted
Bama
Guest
3 months 10 days ago

Vira, gue juga tau masjid ini dari pameran yang sama, dan waktu itu langsung penasaran sama bentuknya yang sekilas lebih mirip tugu/monumen dibanding masjid. Ternyata gitu dalemnya ya, kayaknya adem. Mudah-mudahan terawat terus sih masjid ini, soalnya tau sendiri di Indonesia itu kita bisa bikin bangunan-bangunan megah. Tapi maintenance-nya lain soal.

wpDiscuz