Rekomendasi Makanan Malang (1): Sate Gebug 1920

Submitted by mumunmumun on 29 September 2019   •  Destination

Tags: ,

GPS saya jarang sekali gagal. Acuan GPS yang saya maksud ini bukan alat canggih yang terkoneksi satelit, tetapi ‘Gunakan Penduduk Setempat’ alias tanya orang lokal. Kebetulan beberapa teman saya, para kreator konten, memang ‘kera Ngalam’, sehingga ketika saya ke kota suwejuk ini, mereka menjadi acuan untuk mencari rekomendasi makanan Malang. And they didn’t disappoint!

 

Sate Gebug 1920

Dalam perjalanan kereta malam ke Malang, saya membaca caption di Instagram Arif Rahman tentang Sate Gebug yang sudah berdiri sejak 1920. Arif, teman sesama travel blogger, mengaku menyukai sate yang hanya satu tusuk per porsi ini. Sulit membayangkan rasanya dari unggahan Instagram saja, mengingat bentuknya tak beda dari sate biasa, hanya ukurannya lebih besar. Namun, saya langsung tertarik karena ukuran tempe di sampingnya seperti kotak bedak padat Marcks. Buwesar!

Rekomendasi Makanan Malang Sate Gebug 1920
Rekomendasi makanan Malang: Sepiring tempe dan mendol goreng, semangkok sop dan setusuk sate gebug.

“Warung makan ini udah empat generasi turun temurun. Yang makan di sini udah turun temurun. Kita beli tempe ke tempat yang bikin turun temurun. Memang warung makan keluarga turun temurun,” Ibu Cipto, istri turunan ketiga pembuat sate gebug ini, menjelaskan dari balik kaca pembatas kasir. Saya mengangguk-angguk sambil mengagumi ukuran tempe sekitar 10×10 cm itu sambil memegangnya. Tenang! Karena sudah saya pegang, tempe ini pasti akan saya makan.

Sate di warung ini seharusnya disajikan beserta nasi dan pilihan lauk berkuah antara gulai, soto, atau sop. Saya menolak nasi karena ‘sok diet’ dan memilih sop sayur agar tidak terlalu banyak makan daging. Namun sungguh, isi sopnya banyak sekali dan kuahnya hampir meluap. Rasanya gurih dan semua sayurannya segar!

Proses pembuatan sate gebug seperti namanya; dianiaya sebelum ditusuk lalu dibakar. Penyiksaan daging tersebut menjadikannya lembut dan berair ketika digigit dan dikunyah. Rasa satenya gurih tetapi cenderung manis dengan sedikit rasa khas gosong arang. And I accept this kind of abuse. Saya akui rasa satenya berkesan sekali. Uwenak!

“Kita pake daging wagyu”, kata Ibu. Tak hanya daging, semua bahan yang digunakan adalah bahan yang menurutnya terbaik, termasuk minyak kelapa (bukan minyak sawit) dan kecap Cap Laron. Mendengar ini, saya mencoba mengapresiasi sate ini dengan lebih seksama. Megangguk-angguk seakan mengerti padahal menikmati saja. Ilmu tersebut diturunkan kepada semua anak-anaknya, generasi keempat restoran Sate Gebug. “Pendidikan agama terbaik kita serahkan ke Gontor. Bahan makanan terbaik, saya dan suami yang ajarkan,” lanjutnya. Kedelapan anak Bu Cipto  diwajibkan untuk mempelajari semua bahan dan cara memasak sepulang sekolah. Setelah kewajibannya selesai, mereka boleh bermain. Bahkan pilihan karier pun dibebaskan, asalkan mereka berbakti di warung pada masa sekolah.

Ibu Cipto yang berbagi rahasia di balik Sate Gebug 1920
Ibu Cipto yang berbagi rahasia di balik Sate Gebug 1920

Saya menyimak sambil menikmati mendol—tempe yang dimasak lebih lanjut agar fermentasinya berhenti—yang saya celup ke sop. Bahkan tanpa nasi, saya kekenyangan makan satu tempe, satu mendol, satu mangkok sop, dan satu tusuk sate. Kenyang yang bikin susah jalan. Padahal ketika itu sekitar pukul 11 siang dan saya belum sarapan.

“Kami buka jam 8 pagi. Tapi biasanya jam 7 sudah banyak yang antre. Siapapun boleh masuk, selama Ibu sudah selesai menyapu,” kata Bu Cipto.  sambil menghitung kembalian untuk saya. Karena warung makan ini sudah menjadi tempat makan turun-temurun, banyak orang tua yang datang sehingga ibu tidak tega membiarkan mereka menunggu di luar. Belum lagi orang yang datang jauh-jauh dari luar kota. Perbincangan pun berhenti karena ibu mulai melayani pelanggan yang memenuhi rumah makan. Saya pun membayar dan menerima kembalian dari balik jendela kasir, sebelum pamit ke Bu Cipto.

Kali ini pertama saya makan di Warung Sate Gebug 1920, tetapi saya pasti kembali jika kembali ke Malang. Saya memang belum punya anak tapi dipastikan ini akan menjadi rekomendasi makanan Malang untuk keponakan saya dan anak muda lainnya. Sambil menunggu ojek daring, saya mengelus perut di pinggir jalan, puas GPS saya bekerja dengan baik.

Bersambung …


Leave a Reply

4 Comments on "Rekomendasi Makanan Malang (1): Sate Gebug 1920"

Notify of
avatar

Sort by:   newest | oldest | most voted
Ibadah Mimpi
Guest
1 month 19 days ago

Walah walah walh…. ini semua bikin ngilerrr banget

duniamasak
Guest
1 month 5 days ago

sate gebug nya gede bangettt, bisa kenyang 😀

wpDiscuz