Yuk, Dengerin Podcast Indohoy: The Pineapple Dance!

Submitted by viravira on 3 November 2019   •  Opinion

Ngeblog itu menyenangkan. Bagi saya dan Mumun, bercerita tentang perjalanan di blog itu bukan hanya media bagi kami untuk berbagi tapi juga merefleksikan pengalaman sendiri, kadang-kadang juga untuk curhat dan sedikit ngomel. Tapi setelah 10 tahun ngeblog, terus terang ada juga rasa jenuh yang hinggap. Mumun masih lebih rajin daripada saya ngeblog dalam setahun belakangan ini. Bagi saya, entahlah, sepertinya mengisi instastory saja sudah cukup untuk bercerita. Sampai akhirnya saya terpikir untuk bercerita lewat podcast.

Sudah beberapa tahun saya menjadi pendengar podcast kambuhan. Maksudnya, sempat rutin tiap hari mendengarkan podcast seperti Modern Love sampai mual dengan cerita-cerita manis, lalu podcast Monocle, tapi kemudian bosan dan kembali hanya mendengarkan musik. Ketika saya kembali menjadi pekerja lepasan dan menghabiskan banyak waktu di rumah sendirian ditemani dua ekor kucing kesayangan, kebosanan dan kesepian melanda. Saat itulah saya mulai suka mendengarkan podcast lagi. Berkat saran Aggy, saya suka mendengarkan The History Chicks yang tekun menceritakan hal-hal bersejarah dengan santai.

Saya jadi suka mendengarkan podcast sambil mengerjakan hal-hal yang nggak berurusan dengan kata-kata, seperti menggambar, mendesain scarf, mencuci piring, hingga memasak. Di luar rumah, saya juga suka mendengarkan podcast sambil jalan pagi atau naik ojek. Rasa sepi pun jadi banyak berkurang karena rasanya seperti ada orang lain di sekitar saya, seperti ada orang yang ngajak ngobrol atau sekadar mengobrol di dekat saya. Podcast yang saya dengarkan pun meluas ke lokal, seperti Boker (rekomendasi Vidi), Unfaedah, dan Rapot. Semuanya bertema ringan dan dibawakan dengan banyak bercanda. Dan mungkin karena saya senang, saya pun terinspirasi untuk membuat podcast sendiri. Eh, nggak sendiri, sih.

“Mun, bikin podcast, yuk. Tentang perjalanan,” kata saya pada Mumun suatu hari.

“Yuk!” dasar Mumun memang orangnya gampang diajak ngapa-ngapain.

Maka kemudian mulailah kami merekam podcast pertama dengan tema yang berasal dari pertanyaan yang sering orang-orang tanyakan pada kami: “Sering berantem nggak sih kalo lagi traveling?”

Awalnya canggung. Mumun kalau ngomong sering belibet karena dia thinking outloud, sedangkan saya sering ada jeda karena berpikir di antara kata-kata. Proses editing pun berantakan. Bolak-balik antara software atau aplikasi ini dan itu, ganti-gantian saya atau Mumun yang ngedit, dan berdebat tentang susunan editing enaknya gimana. Setelah beberapa episode awal, kami pun menemukan pola yang kami sepakati. Jadi, jangan heran kalau episode-episode awal masih nggak ada pola yang ajeg, selain kualitas rekaman dan editing pun masih berantakan. Kalau sekarang, ya masih berantakan juga, tapi sudah lebih rapilah.

Sekarang cara kerja juga sudah jelas. Voila! Kira-kira awal bulan Oktober 2019, 10 episode season 1 podcast kami selesai diunggah. Kami menamakannya “The Pineapple Dance”, nama yang teringat begitu saja saat rekaman episode pertama.

Sekarang ini kami sudah masuk ke season 2. Kali ini kami mengunggahnya satu-persatu tiap minggu, nggak sekaligus 10 seperti season 1, supaya pendengar nggak menunggu terlalu lama.

Rekaman podcast dengan Odie tentang travel sketching. Foto oleh Atre.

Semua episode podcast The Pineapple Dance by Indohoy sudah bisa didengarkan di Spotify, Anchor, atau Google Podcast. Ada beberapa episode yang isinya hanya kami berdua, ada beberapa yang mengundang tamu untuk bercerita. Di bawah ini kami berikan tautan masing-masing episode (Spotify dan Anchor).

Podcast “The Pineapple Dance” by Indohoy:

SEASON 01

Episode 1: Berantem dengan Teman dalam Perjalanan.

Spotify: https://tinyurl.com/y3bp8y8t

Anchor: https://tinyurl.com/y3fhu5a5

Episode 2: Oleh-Oleh: Yay or Nay?

Spotify: https://tinyurl.com/y6rbfgaw

Anchor: https://tinyurl.com/y6b9rpcr

Episode 3: Tantangan dan Tips Jalan-Jalan di Bulan Puasa

Spotify: https://tinyurl.com/yybe75rk

Anchor: https://tinyurl.com/y53zllhx

Episode 4: Museum di Eropa, seri 1: Louvre, Stedelijk, dan Van Gogh

Spotify: https://tinyurl.com/yxcfr6pw

Anchor: https://tinyurl.com/y6x8v46u

Episode 5: North Polo & Tromso, Norwegia. Cerita dari Indra Febriansyah.

Spotify: https://tinyurl.com/yxhyozaf

Anchor: https://tinyurl.com/y3mga2dj

Episode 6: Museum di Eropa, seri 2: Design Museum Danmark, Belgian Comic Book Museum, dan Herge Museum.

Spotify: https://tinyurl.com/y5yweae9

Anchor: https://tinyurl.com/y29fus7q

Episode 7: Eksplor Bhutan dan Melihat Penis Raksasa bersama Blogger Ariev Rahman.

Spotify: https://tinyurl.com/y2ohdd6a

Anchor: https://tinyurl.com/y5umroy8

Episode 8: Museum di Eropa, seri 3: Tropen, Africa, dan Topography of Terror.

Spotify: https://tinyurl.com/yyja7clf

Anchor: https://tinyurl.com/y2sasyoo

Episode 9: Belajar Bahasa dan Tarian di Kolombia bersama Farid.

Spotify: https://tinyurl.com/yydjx8cw

Anchor: https://tinyurl.com/y6ofmvlu

Episode 10: Uniknya Travel Influencer Mumun: Tante Mami.

Spotify: https://tinyurl.com/y57djhuq

Anchor: https://tinyurl.com/yyrezvl5

SEASON 02

Episode 11: Airbnb vs Hotel. Kamu Pilih yang Mana?

Spotify: https://tinyurl.com/y5h6cs4d

Anchor: https://tinyurl.com/y3ant686

Kalau ada kritik dan saran, atau usulan topik untuk episode-episode selanjutnya, langsung aja komen di bawah ini, ya! Tiada kesan tanpa play darimu!


Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar

wpDiscuz